Thursday, October 25, 2012

DUA DUNIA



Pendidikan musik yang pertama kali ditempuh Eya Grimonia adalah klasik. Dia mulai belajar piano di usia 4 tahun disusul menekuni biola setahun kemudian. Di usianya yang masih belia, kecintaan dan komitmennya pada musik klasik luar biasa. Kemauan belajarnya kuat, dan perkembangan musikalitasnya pesat.

Saat berumur 7 tahun, Eya pernah ditolak ikut ujian ABRSM karena dianggap masih terlalu muda. Selain itu, di awal tahun 2000an, anak-anak yang belajar biola masih jarang. Piano masih jadi primadona, sementara biola dianggap sebagai alat musik yang sulit ditaklukkan.

Pantang menyerah, Eya kecil terus belajar dan berlatih. Hasilnya, di usia 9 tahun, dia lulus ujian Grade 8 piano dan biola ABRSM dengan mengantungi nilai high distinction. Atas pencapaiannya itu, Eya diundang untuk tampil di Highscore Concert. 

Sejak usia 6 tahun, Eya sudah biasa jadi rekan duet sejumlah penyanyi dan musisi Indonesia. Kemampuannya meng-entertain penonton bukan hanya karena posturnya yang mungil dan imut, tapi lebih karena musikalitasnya yang berkualitas dan penuh percaya diri. Saat berusia 8 tahun, Eya dipercaya untuk  duet bersama Idris Sardi—maestro biola Indonesia—di Istana Negara, di hadapan Presiden Megawati, di acara Hari Musik Indonesia. 

Kemampuan Eya saat itu sempat membuat sejumlah pihak menyampaikan niat untuk menggandengnya. 

Tawaran itu tentu diapresiasi oleh kedua orangtua Eya, namun ketika itu mereka memutuskan bahwa Eya belum saatnya terjun sepenuhnya ke dunia entertainment. 
Eya kecil tetap tampil untuk menghibur di berbagai acara, namun pendidikan musik tetap menjadi prioritas utamanya.

Hery Setyono dan Carolina S Yana sadar bahwa umumnya industri hiburan menuntut waktu dan energi yang tidak main-main. Keduanya berpendapat bahwa jika tawaran itu diterima sepenuhnya, Eya bisa kehilangan kesempatan untuk belajar musik dengan benar. Padahal, masa emas bagi seseorang untuk belajar adalah masa kanak-kanak.

Karena itulah, Eya terus menempa dirinya dengan pendidikan vokal, piano, dan biola klasik. Dia berlatih sembilan jam sehari, belajar dari guru-guru terbaik, dari dalam dan luar negeri, sehingga wawasan, pemahaman, dan kemampuan bermusiknya diakui dengan standar yang benar, standar internasional.

Berbekal keyakinan dan keinginan itu pula, Eya juga mendalami musik jazz.
Di dua dunia inilah, klasik dan jazz, kini Eya berpijak. Dia memadukan kemampuan untuk bermain jazz dengan improvisasi yang hidup dan menarik, di saat yang sama berpegang pada tata cara dan disiplin musik klasik yang benar. EyaGrimonia Trio adalah salah satu bentuk ekspresinya. 

Tidak mudah bagi pemain klasik untuk memainkan repertoar jazz secara lepas. Perlu pemahaman tentang komposisi musik yang memadai, sekaligus jam terbang dan kreativitas yang tinggi. 
Di saat yang sama musik klasik pun mesti disajikan dengan kualitas terbaik, namun dalam format yang renyah—karena pada akhirnya musik itu adalah untuk dinikmati.

Eya Grimonia piawai memainkan komposisi klasik dengan disiplin tinggi dan menyajikannya dengan krezzz... andal pula menghadirkan nuansa genre musik yang lain, dengan kaidah dan regulasi klasik nan menawan. 

Dua dunia itu baginya tak pernah berseberangan. Filosofi musiknya juga tidak mejadikannya dikotomis. Keduanya seperti ayunan langkah yang padu dalam harmoni.


No comments:

Post a Comment